Berita Hawzah – Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam dalam salah satu hikmah Nahjul Balaghah bersabda:
«یَا ابْنَ آدَمَ، إِذَا رَأَیْتَ رَبَّکَ سُبْحَانَهُ یُتَابِعُ عَلَیْکَ نِعَمَهُ وَ أَنْتَ تَعْصِیهِ، فَاحْذَرْهُ»
"Wahai Bani Adam! Bilamana kalian melihat bahwa Tuhanmu Yang Mahasuci menganugerahkan nikmat-Nya susul menyusul kepada kalian sementara kalian bermaksiat terhadap-Nya, maka takutlah kepada-Nya." (Hikmah ke-25)
Penjelasan:
Pada pandangan pertama, keberlanjutan nikmat adalah sesuatu yang patut disyukuri dan membawa kebahagiaan. Namun, dalam logika Ilahi, kelangsungan nikmat yang disertai dengan kemaksiatan adalah tanda bahaya besar, bukan tanda keridhaan Allah. Kelanjutan nikmat terkadang merupakan karunia lahiriah, tetapi pada hakikatnya, ia bisa merupakan ujian atau pendahuluan dari istidraj—yaitu tertarik secara bertahap menuju kehancuran tanpa disadari oleh individu tersebut. (1)
Tampaknya, pertama-tama kita harus mengubah cara pandang kita tentang masalah nikmat dan musibah. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an:
«فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَکْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَیَقُولُ رَبِّی أَکْرَمَنِ * وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَیْهِ رِزْقَهُ فَیَقُولُ رَبِّی أَهَانَنِ * کَلَّا»
"Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: ""Tuhanku telah memuliakanku"". *Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: ""Tuhanku menghinakanku"". * Sekali-kali tidak (demikian)." (QS. Al-Fajr: 15-17)
Ayat ini memperbaiki pemahaman manusia yang dangkal tentang nikmat dan musibah. Karena nikmat tidak selalu menjadi tanda kemuliaan, sebagaimana kesempitan dan kesulitan juga tidak selalu menjadi tanda murka Ilahi. Poros dan indikator sejatinya adalah hubungan hati dan spiritual manusia dengan Allah, yang tentu saja tidak terlihat oleh mata.
Poin penting lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa nikmat selalu membutuhkan penjagaan. Setiap nikmat yang membuat manusia lalai dari Allah, pada hakikatnya adalah bencana (niqmah). Jika kita melihat bahwa setelah berbuat maksiat, jalan rezeki dan nikmat tetap terbuka, kita harus semakin banyak beristighfar karena bisa jadi nikmat itu adalah ujian terakhir. Oleh karena itu, Imam Ja'far As-Shadiq 'alaihissalam bersabda berkaitan dengan hal ini:
إِنَّ اَللَّهَ إِذَا أَرَادَ بِعَبْدٍ خَیْراً فَأَذْنَبَ ذَنْباً أَتْبَعَهُ بِنَقِمَةٍ وَ یُذَکِّرُهُ اَلاِسْتِغْفَارَ وَ إِذَا أَرَادَ بِعَبْدٍ شَرّاً فَأَذْنَبَ ذَنْباً أَتْبَعَهُ بِنِعْمَةٍ لِیُنْسِیَهُ اَلاِسْتِغْفَارَ وَ یَتَمَادَی بِهَا وَ هُوَ قَوْلُ اَللَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ: «سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَیْثُ لاٰ یَعْلَمُونَ» بِالنِّعَمِ عِنْدَ اَلْمَعَاصِی
"Sesungguhnya apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, lalu hamba itu melakukan suatu dosa, Allah mengiringi dosanya dengan hukuman (niqmah) dan mengingatkannya untuk beristighfar. Dan apabila Allah menghendaki keburukan bagi seorang hamba, lalu hamba itu melakukan suatu dosa, Allah mengiringi dosanya dengan nikmat agar ia lupa untuk beristighfar dan terus menerus larut dalam dosa. Dan itulah maksud firman Allah Azza wa Jalla: 'Kelak Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.' (QS. Al-A'raf: 182) Yaitu dengan memberikan nikmat di saat mereka melakukan kemaksiatan." (Al-Kafi, jilid 2, halaman 452)
Catatan Kaki:
1. "استدراج" dalam budaya Islam termasuk dari sunnatullah. Artinya, Allah secara bertahap menjerat pelaku dosa yang tidak takut kepada azab-Nya; yakni, semakin banyak mereka berbuat dosa, semakin banyak pula nikmat yang diberikan kepada mereka. Akibatnya, mereka semakin dilanda kesombongan dan kelalaian, sehingga pada akhirnya akan menerima azab yang lebih berat. (Tafsir al-Amtsal)
Your Comment